Saturday, October 30, 2010

Pengaruh Proses Menua Terhadap Perubahan Gingiva

Teguh wibowo
Mahasiswa kedokteran gigi
Program Study Kedokteran gigi Universitas Sriwijaya
Palembang - Indonesia

Abstract
Proses penuaan merupakan hal yang wajar yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup dalam hidupnya, termasuk manusia. Proses menua adalah proses biologis dimana hilangnya kemampuan sel-sel dalam jaringan untuk mengganti atau memperbaiki dan mempertahankan fungsi pada keadaan normalnya. Proses ini juga berhubungan dengan berbagai perubahan-perubahan local maupun sistemic dalam tubuh. Begitu halnya perubahan ini juga meliputi perubahan didalam rongga mulut. Salah satu jaringan lunak yang terdapat didalam rongga mulut adalah gingiva. Pada gingiva, terjadi perubahan epitel menjadi lebih tipis, perubahan jaringan ikat, bahkan terjadi resesi gingiva. Perubahan tersebut dialami gingiva karena beberapa pengaruh yang timbul akibat proses menua.

Pendahuluan
Proses menua atau penuaan adalah sesuatu hal yang tidak dapat kita hindari. Proses tersebut merupakan proses biologik yang alami ditandai dengan berbagai macam perubahan-perubahan jaringan yang disebabkan berbagai faktor serta dipengaruhi oleh waktu. Proses ini juga ditandai dengan kemunduran kemampuan sel dalam menjalankan fungsinya (degeneratif sel) bahkan sampai kematian. Proses ini mempengaruhi berbagai jaringan dan organ dalam tubuh manusia. Hal ini karena proses penuaan mempengaruhi perubahan sel-sel tubuh.
Perubahan tersebut termasuk pada perubahan yang terjadi dirongga mulut manusia. Dalam rongga mulut sendiri terdapat beberapa organ, yang diklasifikasikan menjadi jaringan keras dan jaringan lunak. Jaringan keras terbagi atas, gigi. Sedangkan untuk jaringan lunak terdiri atas. Gigi terdiri atas berbagai bagian, mulai dari email, dentin, sementum, pulpa, dan jaringan pendukung gigi. Jaringan pendukung gigi disebut juga sebagai jaringan periodontal. Gingiva merupakan salah satu elemen jaringan yang menyusun periodontium selain tulang alveolar, sementum dan ligamen periodontal.
Seperti halnya jaringan lain, jaringan periodontal juga mengalami perubahan akibat dari proses menua. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut, selain karena faktor alami yaitu usia, perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh penyakit. Penelitian silang menunjukkan bahwa prevalensi dan keparahan dari penyakit periodontal meningkat sejalan usia.(5,6,7). Penelitian Amerika lainnya (15), menunjukkan bahwa usia secara tidak langsung berhubungan dengan parameter berikut :
• Adanya peradangan gingiva ( gingivitis )
• Akumulasi plak dan kalkulus
• Resesi gingiva
• Kedalaman poket periodontal

Secara umum penyakit yang menyerang periodontal terbagi atas gingivitis dan periodontitis.

Pembahasan
A. Proses Menua
Proses penuaan merupakan hal yang wajar yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup dalam hidupnya, termasuk manusia. Proses menua adalah proses biologis dimana hilangnya kemampuan sel-sel dalam jaringan untuk mengganti atau memperbaiki dan mempertahankan fungsi pada keadaan normalnya. Proses ini tidak dapat dihindari oleh manusia.
Ilmu yang mempelajari tentang penuaan ialah gerontologi. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penuaan yang digunakan untuk mencari dan mengklarifikasi penyebab dan konsekuensi penuaan.2 Pengetahuan tentang batasan lanjut usia penting untuk kita ketahui, menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) batasan Lanjut usia meliputi:
• Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
• Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun
• Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun
• Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
Ada beberapa teori tentang penuaan, yaitu :
1. Teori Biologi
• Teori Seluler
Sel-sel dalam tubuh memiliki kemampuan membelah dalam jumlah yang terbatas. Maksudnya, pada titik tertentu atau nilai tertentu sel tersebut tidak dapat lagi melakukan pembelahan. Rata-rata sel memiliki kemampuan membelah sebanyak 50 kali. Selama kehidupan, sel pada sistem tubuh kita cenderung mengalami kemunduran dan kerusakan bahkan kematian akibat dari berbagai hal, baik karena usia maupun karena faktor penyakit. Untuk beberapa sistem, jika terjadi kerusakan atau kematian sel maka sel tersebut tidak dapat diganti. Misalnya saja pada sistem saraf, sistem musculoskletal dan jantung.
• Teori Sintesis Protein
Proses penuaan mempengaruhi sintesis protein dalam tubuh. Dimana akibat dari penuaan, protein dalam tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang flexibel dan kurang elastin. Hal tersebut juga mengenai jaringan tertentu misalnya saja kulit, kartilago yang kehilangan elastisitasnya pada lansia sehingga kehilangan flexibilitasnya dan menjadi lebih tebal.

• Teori Keracunan Oksigen
Manusia mempunyai kemampuan untuk melawan efek racun oksigen dan kemampuan itu akan menurun sebanding dengan bertambahnya usia, khususnya pada lansia. Hal itu diakibatkan karena penurunan kemampuan sel tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung racun dengan kadar yang tinggi, dan membuat bentuk atau struktur membarane sel mengalami perubahan dan rigid. Sedangkan fungsi dari membrane sel adalah untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungan yang juga mengendalikan proses pengambilan nutrient dan proses ekskresi zat-zat toksik dari dalam sel yang dipengaruhi oleh rigriditas membarane tersebut.

• Teori Sistem Imun
Sistem imunitas ialah kemampuan tubuh dalam merespon segala sesuatu yang masuk kedalam tubuh serta kemampuan untuk mempertahankan keadaan agar tubuh tetap dalam keadaan normalnya. Sistem yang terbagi menjadi sistem imun spesifik dan non-spesifik ini, akan mengalami hal yang sama seperti sistem yang lainnya akibat dari proses penuaan yaitu kemunduran. Hal itu yang menyebabkan pada umumnya lansia sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit. Jika terjadi kemunduran pada sistem limfatik khususnya sel darah putih maka merupakan kemunduran yang besar pada proses penuaan.
Hal ini dimanifestasikan dengan meningkatnya infeksi, penyakit autoimun dan kanker. Perlu diketahui juga bahwa, sistem imunitas seseorang secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi proses menua. Misalnya saja infeksi yang menyerang organ tertentu, sehingga mengakibatkan terjadinya penyakit yang kemudian memacu terjadinya proses menua. Jadi dapat disimpulkan, bahwa terdapat hubungan timbal balik antara sisterm imun dengan proses menua.

2. Teori Psikologi
Secara tidak langsung keadaan psikologi seseorang dapat menjadi salah satu faktor yang sangat mendukung percepatan proses menua. Stres adalah salah satu contoh keadaaan psikologi ini. Stres sendiri dapat berupa :
• Fisik : radiasi, trauma dan lain-lain
• Biologik : efek radikal bebas, obat-obatan,infeksi
• Psikososial

B. Perubahan gingiva
Jaringan periodontal disebut juga dengan jaringan pendukung gigi. Jaringan ini terdiri dari Gingiva, Ligamen periodontal, Sementum, dan Processus alveolaris.
Gingiva adalah bagian dari mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan menutupi lingir (ridge) alveolar. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya gingiva merupakan bagian dari apparatus pendukung gigi yang membentuk hubungan dengan gigi. Gingiva berfungsi untuk melindungi jaringan dibawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut. Ada tidaknya jaringan ini tergantung oleh gigi itu sendiri, dimana ketika gigi sudah tidak ada perlahan-lahan gingiva pun akan menghilang.
Dalam keadaan sehat gingiva bewarna merah muda (pink) keras, mempunyai tepi yang tajam seperti pisau (knife edge) dan scalop agar sesuai dengan kontur gigi-geligi. Warna dari gingival bervariasi antara orang yang berkulit terang dengan orang yang berkulit gelap, hal ini disebabkan karena jumlah pigmen melanin pada epithelium, derajat kreatinisasi epithelium dan vaskularisasi serta sifat fibrosa dari jaringan ikat dibawahnya. Untuk sifat imunitasnya gingiva memiliki efisiensi mekanisme pertahanan tersendiri yang mencakup :
1. Aliran saliva dan kandungan saliva, misalnya lisozim, Ig A
2. Pergantian sel dan deskuamosi permukaan.
3. Aktivasi mekanisme imun.

Dentogingival merupakan perlekatan antara gigi dengan mukosa mulut. Perlekatan ini merupakan satu-satunya perlekatan pada tubuh antara jaringan lunak dengan jaringan kalsifikasi yang terpapar terhadap lingkungan eksternal.

Papila interdental mengisi ruangan yang terdapat diantara sela-sela gigi. Gingiva terbagi menjadi 2 bagian yaitu margin gingiva dan attached gingiva.

Gingiva margin (tepi gingiva)
Membentuk cuff selebar 1-2 mm disekitar leher gigi dan dinding bagian luar dari leher gingiva yang mempunyai kedalaman 0-2 mm. Tepi gingiva terdiri dari serabut-serabut jaringan ikat, dan ditutupi oleh ephitelium squamosa stratifikasi yang dapat mengalami pergantian berkesinambungan melalui reproduksi sel yang berkelanjutan pada lapisan terdalam dan lepasnya lapisan superficial.
Atacched gingiva
Memiliki lebar yang bervariasi dari 0-9 mm, dengan perlekatan terbesar pada regio insisivus (3-5 mm) dan tersempit pada regio kaninus dan premolar bawah. Atacched gingiva meluas dari groove gingiva bebas ke pertautan mucogingival dimana akan bertemu dengan mukosa alveolar. Mukosa alveolar adalah suatu mukoperiosteum yang melekat erat dengan tulang alveolar dibawahnya.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perubahan pada gingiva. Diantaranya karena usia itu sendiri dan karena faktor penyakit.
Perubahan karena faktor Usia
Karena sifat dari sel tubuh manusia yang memiliki usia yang terbatas, secara perlahan dengan bertambahnya usia manusia khususnya ketika kita mencapai usia lansia mengakibatkan sel-sel dalam tubuh kita secara alami akan mengalami proses degeneratif. Dimana akan terjadi kemunduran-kemunduran dari kemampuan fungsinya sendiri dan kemampuan mekanisme imunitasnya sehingga akan mudah terekspos penyakit.
Hal itu juga berlaku pada gingiva, gingiva akan menngalami serangkaian perubahan terkait faktor alami ini. Sel epitel dari gingiva akan bertambah tipis, kurang berkeratin dan terdapat kepadatan sel. Keratinisasi epitel gingiva yang menipis dan berkurang terjadi berkaitan dengan usia. Keadaan ini berarti permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat, resistensi terhadap trauma fungsional berkurang, atau keduanya.6 Jaringan ikatnya sendiri, akan berubah dari tekstur yang halus menjadi lebih padat dan jaringan bertekstur kasar. Komponen seluler dari jaringan ikat gingiva akan berkurang. Pada sambungan antara epitel dan jaringan ikat juga berubah sesuai usia dari sambungan (antarmuka) tipe lingir (ridge) menjadi tipe papila.(23ndith).
Salah satu penelitian epidemiologi awal mengenai prevalensi penyakit periodontal dan tanggalnya gigi pada populasi dewasa diAmerika serikat menunjukkan bahwa penyakit periodontal tidak umum terjadi pada usia 18 tahun.(3ndith) bahkan, setelah usia 40 tahun terjadi kerusakan keadaan tak bergigi yang cepat dan pada usia 60 tahun, sekitar 60 % gigi-geligi sudah tanggal dan hanya 20 % subjek yang masih bergigi.4ndith
Perubahan karena faktor Penyakit
Penyakit-penyakit yang sering mengenai gingiva diantaranya adalah gingivitis (peradangan pada gingiva) dan resesi gingiva. Gingivitis adalah peradangan pada gingiva, dengan tanda atau gejalanya adalah nyeri lokal atau menyeluruh pada gingiva, rasa gatal dalam gingiva, halitosis, perdarahan gingiva akibat penyikatan gigi, adanya bercak-bercak darah pada bantal dipagi hari, membengkaknya gingiva dan terbentuknya poket gingiva.4 Patogensis dari gingivitis terdiri dari 4 tahap (stage) yaitu :
1. Stage I gingivitis : Inisial lesion
Manifestasi pertama dari inflamasi ginggiva adalah perubahan vaskularisasi yaitu dilatasi kapiler dan peningkatan aliran darah. Secara klinis, respon awal ginggiva terhadap bakteri plak ini tidak kelihatan.

2. Stage II gingivitis : The Early Lesion
The early lesion berkembang dari initial lesion dalam 1 minggu setelah permulaan akumulasi plak. Secara klinis, early lesion mugkin tampak seperti gingivitis awal, yang berkembang dari inisial lesion. Tanda-tanda klinis eritema dapat terlihat, terutama proliferasi kapiler dan peningkatan formasi loop kapiler antara rete pegs atau ridges.

3. Stage III gingivitis : The Estabilished lesion
Established lesion karakteristiknya berupa predominan sel plasma dan limfosit B dan kemungkinan berhubungan dengan pembentukan batas poket gingival kecil dengan poket epithelial. Pada gingivitis kronis (stage III), yang terjadi 2 atau 3 minggu setelah permulaan akumulasi plak, pembuluh darah menjadi engorged dan padat, vena kembali dirusak, dan aliran darah menjadi lambat. Hasilnya adalah anoxemia ginggiva local, yang ditandai dengan adanya corak kebiru-biruan pada gusi yang merah.

4. Stage IV gingivitis : The Advance Lesion
Perluasan lesi kedalam tulang alveolar merupakan karakter dari stage ke empat yang disebut advanced lesion. Secara mikroskopik, terdapat fibrosis pada gingival dan manifestasi inflamasi yang menyebar dan kerusakan jaringan imunopatologi. Pada dasarnya,dalam advanced lesion, sel plasma berlanjut mendominasi jaringan ikat, dan neutrofil berlanjut mendominasi epithelial junction dan celah gingival.
Tabel Stage of Gingivitis
STAGE TIME (DAYS BLOOD VESSELS JUNCTIONAL AND SULCULAR EPITELIUM PREDOMINANT IMUNE CELL COLLAGEN CLINICAL FINDINGS
I. Initial Lesion 2-4 Dilatasi vaskular Infiltrasi oleh PMN`s PMN`s Kehilangan perivaskular Aliran cairan gingiva
II. Early lesion 4-7 Proliferasi vaskular Sama seperti stage I; rete peg formation; area atropik Limfosit Kehilangan meningkat sekitar infiltrasi Erytema; perdarahan dalam pemeriksaan
III. Established Lesion 14-21 Sama seperti stage II,ditambah stasis darah Sama seperti stage II,tapi tingkatnya lebih tinggi Plasma sel Terus kehilangan Perubahan warna, ukuran, tekstur, dll

Penelitian gingivitis eksperimental memberikan fakta empiris bahwa akumulasi biofilm bakteri pada permukaan gigi bersih menghasilkan perkembangan proses inflamasi di sekitar jaringan gingival. Pada dasarnya, tanda-tanda klinis gingivitis berupa : kemerahan pada jaringan gusi, perdarahan , perubahan kontur, dan adanya kalkulus atau plak. Pemeriksaan histology pada gingival yang mengalami inflamasi menyebabkan ulserasi epithelium. Perbaikan ulserasi pada epithelium ini tergantung pada proliferasi atau regenerasi dari aktivitas sel epitel.

Tanda klinis yang ditemukan pada gingivitis yaitu :
• Perdarahan gingiva saat probing
• Perdarahan gingiva karena faktor lokal
• Perdarahan gingiva karena dampak dari faktor sistemik
• Perubahan warna pada gingiva
• Perubahan warna terkait dengan faktor sistemik
• Perubahan konsistensi gingiva
• Perubahan tekstur permukaan gingiva
• Perubahan posisi gingiva
• Perubahan kontur gingiva

Penyakit gingiva lainnya y sering terjadi Resesi gingiva . Resesi merupakan terlihatnya permukaan akar dengan bagian apex pada posisi gingiva. Posisi sebenarnya adalah bagian di mana terdapat pelekatan epitel pada gigi, sedangkan posisi yang terlihat adalah bagian puncak batas gingiva. Terdapat dua jenis resesi: Visible (terlihat), yang secara klinis bisa terlihat, dan Hidden (tersembunyi), yang tertutupi oleh gingiva dan hanya bisa diukur dengan memasukkan sebuah alat pada bagian yang berepitel.
Resesi merujuk pada lokasi gingiva, bukan pada kondisinya. Gingiva yang menyusut selalu mengalami inflamasi, tapi mungkin normal, kecuali untuk posisinya. Resesi bisa terdapat pada salah satu gigi atau suatu kelompok gigi atau dapat secara umum pada keseluruhan mulut. Resesi gingiva meningkat seiring usia; peristiwa ini bervariasi dari 8% pada anak-anak sampai 100% setelah usia 50 tahun. Hal ini membuat beberapa peneliti berasumsi bahwa resesi merupakan sebuah proses fisiologis yang berkaitan dengan usia.

Kesimpulan
Proses menua adalah suatu proses yang alami dimana terjadi kemunduran dan berkurangnya kemampuan sel dalam melaksanakan berbagai fungsinya. Gingiva merupakan jaringan lunak dalam rongga mulut yang termasuk dari bagian periodontium, yang juga mengalami perubahan tersebut. Perubahan gingiva ini terdiri dari berbagai faktor yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses menua. Perubahan sel, baik secara alami (karena faktor langsung dari usia) maupun karena akibat dari penyakit yang mengenai jaringan gingiva, merupakan faktor yang sangat mendasar dalam menghubungkan perubahan gingiva dengan proses menua. Perubahan gingiva secara alami pasti akan terjadi akibat dari sifat dasar sel yang memiliki usia yang terbatas dan akan dipercepat dengan faktor penyakit yang menyerang gingiva, begitu juga dengan sebaliknya.
















Daftar Pustaka
1. Eley BM, Manson JD. Buku Ajar Periodonti. Ed 2. Jakarta: Hipocrates,
2. Trikarjana P. Biologi Mulut I. Palembang: xxx, 2004
3. Dixon AD. Buku pintar Anatomi untuk Kedokteran Gigi. Ed 5. Jakarta: Hipocrates,
4. Ogston R, Harty FJ. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC, 1995
5. Lawler W, Ahmed A, dan Hume WJ. Buku Pintar Patologi untuk Kedokteran Gigi. Cetakan II. Jakarta : 2002
6. Spackman SS, Janet GB., 2006. Periodontal Treatment for Older Adults, in (Carranza’s Clinical Periodontology). 10th ed, St.louis: WB Saunders Company, 93 – 97, 675 - 691.
7. Wall A, Barnes IE. Perawatan Gigi Terpadu untuk Lansia. Jakarta: EGC,

KEBIASAAN MEROKOK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT PERIODONTAL

KEBIASAAN MEROKOK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT PERIODONTAL


TEGUH WIBOWO M
04081004045
TUGAS PERIODONTI I

PROGRAM STUDY KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA


PALEMBANG, 29 OKTOBER 2010

Kebiasaan Merokok sebagai Penyebab Penyakit Periodontal

Teguh wibowo
Mahasiswa kedokteran gigi
Program Study Kedokteran gigi Universitas Sriwijaya
Palembang - Indonesia

1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Jaringan periodontal adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari gingiva, periodontal ligamen, sementum dan tulang alveolar. Seperti jaringan dalam tubuh manusia lainnya jaringan periodontal ini juga dapat mengalami keadaan patologis yang disebabkan oleh berbagai faktor. Diantara faktor-faktor tersebut salah satunya ialah kebiasaan merokok.
1.2 Tujuan
a. Sebagai tugas mata kuliah periodonsi I program study kedokteran gigi fakultas kedokteran universitas sriwijaya
b. Untuk mengetahui pengaruh kebiasaan merokok sebagai penyakit periodontal.
1.3 Manfaat
Dengan mengetahui bahwa merokok merupakan salah satu penyebab penyakit periodontal, kita dapat melakukan upaya sosialisasi dan edukasi untuk melakukan upaya perawatan maupun preventif.





2. Isi
2.1 Defenisi
2.1.1 Merokok
Kebiasaan merokok sejak lama telah diisolasikan sebagai penyebab berbagai macam perubahan dalam rongga mulut, seperti kaitannya dengan kanker mulut dan penyakit dan periodontal. Zat dalam asap rokok seperti ; nikotin, tar, karbon monoksida (CO), dan ratusan zat-zat kimia berbahaya lainnya, dapat terabsorbsi melalui jaringan lunak rongga mulut dan mengikuti aliran darah. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pejamu dan kesehatan periodonsium.
Analisa berdasarkan survei NHANES 1 menunjukan bahwa perokok termasuk kelompok dengan indeks plak dan kalkulus serta level penyakit periodontal yang tinggi dibandingkan bukan perokok. Hal inilah yang menyebabkan merokok sering dikaitkan sebagai faktor sekuder atau faktor pendorong dalam menimbulkan kehilangan gigi dan tulang alveolar pada penyakit periodontal.

Rongga mulut sangatlah mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Mulut meruupakan tempat awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok, temperatur rokok pada bibir adalah 300 C, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 9000 C.3 Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi sekresi saliva. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih anaerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok beresiko lebih besar dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok. Dalam asap sebatang rokok yang dihisap mengandung zat kimia beracun yang terdiri dari komponen gas (85%) dan partikel. Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida dan formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbazol, dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan karsinogen.
Nikotin yang merupakan salah satu zat yang terdapat didalam rokok merupakan zat yang dapat meracuni tubuh, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan menyebabkan ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya. Kadar nikotin yang dihisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan. Sedangkan zat lainnya, misalkan tar yang merupakan kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok yang bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan warna cokelat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg / batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg. Banyaknya komponen bergantung pada tipe tembakau, temperatur pembakaran, panjang rokok, porositas, kertas pembungkus, bumbu rokok, serta ada atau tidaknya filter. Jenis kertas pada rokok juga dapat mempengaruhi kadar nikotin yang masuk kedalam rokok dan larut, sehingga dapat mengurangi kadar nikotin yang masuk kedalam paru-paru perokok. Penggunaan filter dapat mendinginkan rokok dan memudahkan dihisap. Filter mengandung lebih dari 12.000 serat putih. Secara mikroskopis, serat-serat tersebut terbuat dari selulosasetat dan berbentuk Y serta mengandung titanium dioksida. Selulosa asetat merupakan substansi yang menyerupai plastik sintesis yang biasa digunakan untuk film pada fotografi, dan diikat oleh triasetin (gliserol triasetat). Filter dapat mengahalangi sejumlah tar dan partikel yang dihisap oleh perokok. Kini 90% rokok yang dijual didunia merupakan rokok filter.
Kebiasaan merokok atau kebiasaan menguntah tembakau. Berperannya kebiasaan merokok sebagai factor etiologi bisa karena :
- Mempermudah penumpukan kalkulus
- Asap rokok bisa memperlemah kemampuan khemotaksis dan fagositosis netrofil
- Kandungan nikotin rokok dapat memperlemah kemampuan fagositosis, menekan proliferasi osteoblas, dan kemungkinan juga mengurangi aliran darah ke gingival.

2.1.2 Penyakit periodontal
Jaringan periodontal adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri atas gingiva, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar.1,2


Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (= jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang).3,4,5
Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.


2.2 Efek buruk rokok terhadap gigi dan mulut
2.2.1 Bau mulut
Merokok dapat menimbulkan bau mulut atau halitosis. Keaddan ini tidak dapat diatasi dengan menyikat gigi atau menggunakan obat kumur. Jika anda adalah seorang perokok maka siapapun yang ada di dekat wajah anda pasti tahu bahwa anda adalah seorang perokok.


2.2.2 Mengubah warna gigi (menimbulkan staining)
Staining adalah perubahan warna yang terjadi pada gigi. Jika anda sering merokok, maka bersiap-siaplah untuk menghadapi kenyataan bahwa warna gigi anda akan berubah. Gigiyang tadinya berwarna putih, maka akan menjadi lebih “kuning”. Jika anda merokok dalam waktu yang lebih lama lagi, mungkin selama beberapa tahun, maka warna gigi anda akan berubah menjadi “cokelat”. Tentu akan sangat mengganggu estetik atau penampilan anda.

2.2.3 Tartar lebih mudah berkembang
Tartar atau yang biasa disebut kalkulus adalah plak berisi bakteri yang telah mengalami pengapuran atau kalsifikasi dan kadang menempel pada permukaan gigi anda. Tartar jika tidak dihilangkan dapat menyebabkan penyakit jaringan pendukung gigi (periodontitis). Tartar banyak ditemukan pada perokok.

2.2.4 Mempengaruhi perlekatan tulang dan jaringan lunak pada gigi
Jika dalam mulut seorang perokok terdapat gusi yang turun (receeding gums), maka aktivitas merokok akan memperparah keadaan tersebut yang akan menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan panas atau dingin karena terbukanya sebagian dentin.


2.2.5 Menunda proses penyembuhan
Merokok dapat menunda penyembuhan jaringan lunak rongga mulut anda karenarokok mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan gusi.

2.2.6 Menyebabkan penyakit periodontal (periodontitis)
Periodontitis adalah penyakit radang kronis yang terjadi akibat aktivitas plak bakteri, yang diawali oleh timbulnya radang pada gusi dan berlanjut hingga terbentuknya poket gigi, kehilangan perlekatan tulang dan berakhir pada “tanggal”nya gigi. Perokok mempunyai resiko yang besar untuk perkembangan penyakit periodontal menjadi lebih parah dibandingkan dengan bukan perokok. Ini dikaitkan dengan lemahnya mekanisme pertahanan tubuh para perokok sehingga lebih rawan terkena penyakit periodontal

2.2.7 Resiko tinggi terhadap kanker rongga mulut
Ini adalah resiko yang paling menakutkan dari efek merokok pada gigi dan mulut. Dimana diketahui bahwa para perokok mempunyai resiko 6 kali lebih banyak menderita kanker rongga mulut. Ini dikaitkan dengan bahan kimia yang berjumlah sekitar 4.000 dalam sebatang rokok. Kanker rongga mulut yang biasa dialami oleh para perokok adalah kanker mulut, lidah, bibir, dan tenggorokan. Kebanyakan pasien dengan kanker rongga mulut meninggal dalam waktu 5 tahun, hal ini karena kanker rongga mulut ditemukan setelah dalam tahap lanjut dan telah berkembang.

Bahkan menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Periodontology, perokok saat ini sekitar empat kali lebih besar daripada orang yang tidak pernah merokok memiliki penyakit periodontal lanjut. Ini adalah studi pertama untuk memperkirakan proporsi kasus penyakit periodontal yang dapat dikaitkan dengan merokok. Peneliti menganalisis data kesehatan pemerintah terhadap 13.650 orang berusia 18 dan lebih tua yang memiliki gigi mereka.
Namun, 11 tahun setelah berhenti, 'mantan perokok kemungkinan memiliki penyakit periodontal tidak berbeda dari mereka yang tidak pernah merokok. Studi ini juga menemukan bahwa ada hubungan dosis-respons antara rokok yang dihisap per hari dan kemungkinan periodontitis. Sebuah survei online periodontis dilakukan oleh AAP menemukan bahwa sebagian besar periodontis secara rutin (79 persen) atau sebagian besar waktu (14 persen) menyarankan pasien mereka untuk berhenti merokok.
Menurut Robert Genco, DDS, Ph.D., editor Journal of Periodontology, Penggunaan tembakau mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan gingiva. Merokok dapat merusak mekanisme pertahanan tubuh, membuat perokok lebih rentan terhadap infeksi seperti penyakit periodontal."
Selain menjadi penyebab utama kehilangan gigi, penyakit periodontal telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes terkontrol buruk, penyakit pernapasan dan bayi prematur.

2.3 Mekanisme
Para peneliti di Amerika Serikat telah menemukan mengapa para perokok lebih mudah menderita penyakit gusi kronis. Salah satu jenis bakteri yang bertanggung jawab terhadap infeksi jaringan periodontal dapat memberikan respon terhadap asap rokok dan mengubah kemampuannya dalam menginfeksi rongga mulut dari perokok.

Penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di Society for Applied Microbiology journal Environmental Microbiology, memperlihatkan bahwa bakteri Porphyromonas gingivalis dapat beradaptasi dan mengubah DNA serta membran proteinnya sebagai respon terhadap asap rokok. Asap rokok dapat mengubah beberapa gen dari Porphyromonas gingivalis yang berhubungan dengan virulensi, detoksifikasi, mekanisme stress oksidatif, dan perbaikan DNA. Perubahan pun terjadi pula pada protein yang terdapat pada sel membran bakteri dan hal ini mempengaruhi karakteristik dari bakteri tersebut dan bagaimana sistem imun manusia mengenal patogen ini.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa perokok lebih sulit memberikan respon terhadap perawatan periodontal dan lebih rentan terhadap penyakit rongga mulut yang disebabkan infeksi dari Porphyromonas gingivalis.

Peneliti dari University of Louisville, Dr David Scott mengatakan: "Sudah diketahui sejak lama bahwa perokok lebih rentan terhadap periodontitis dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok. Bagaimanapun, alasannya masih belum terlalu jelas."

"Untuk pertama kalinya, penelitian kami memperlihatkan bahwa komponen dalam asap rokok mengubah kunci karakteristik dari bakteri patogen yang juga akan mengubah bagaimana sistem imun kita bereaksi terhadapnya. Hal ini membuat kita perlu mengembangkan alternatif rencana perawatan bagi perokok dan yang bukan perokok."
Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat pada permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah gusi sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis.6


Gejala
Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang dapat diperhatikan adalah
• Gusi berdarah saat menyikat gigi
• Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.
• Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi.
• Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.
• Gigi goyang.



2.4 Pemeriksaan
Sebelum melakukan perawatan terlebih dahulu kita harus tetap melaksanakan anamnesa. Anamnesa sangat penting untuk menentukan rencana perawatan yang terbaik. Dalam anamnesa itu sendiri yang di tanyakan oleh seorang praktisi dengan pasiennya ialah keluhan utama, keluhan tambahan, riwayat kesehatan umum (penyakit sistemik, alergi, kebiasaan dan lain-lain). Riwayat kesehatan gigi ( perawatan yang telah dilakukan)
Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi dan melihat apakah ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan bawah saat menggigit juga akan diperiksa.

Gbr 4. Pemeriksaan kedalaman poket
Kemudian dokter gigi akan melakukan pemeriksaan yang disebut periodontal probing, yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman poket (kantong yang terbentuk di antara gusi dan gigi). Kedalaman poket ini dapat menjadi salah satu petunjuk seberapa jauh kerusakan yang terjadi. Sebagai tambahan, pemeriksaan radiografik (x-rays) juga perlu dilakukan untuk melihat tingkat keparahan kerusakan tulang. Pada kasus-kasus periodontitis yang belum begitu parah, biasanya perawatan yang diberikan adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah tindakan ini, diharapkan gusi akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat kembali dengan baik.



2.4 Perawatan
Pada kasus-kasus yang lebih parah, tentunya perawatan yang diberikan akan jauh lebih kompleks. Bila dengan kuretase tidak berhasil dan kedalaman poket tidak berkurang, maka perlu dilakukan tindakan operasi kecil yang disebut gingivectomy. Tindakan operasi ini dapat dilakukan di bawah bius lokal.
Pada beberapa kasus tertentu yang sudah tidak bisa diatasi dengan perawatan di atas, dapat dilakukan operasi dengan teknik flap, yaitu prosedur yang meliputi pembukaan jaringan gusi, kemudian menghilangkan kotoran dan jaringan yang meradang di bawahnya.7
Antibiotik biasanya diberikan untuk menghentikan infeksi pada gusi dan jaringan di bawahnya. Perbaikan kebersihan mulut oleh pasien sendiri juga sangat penting.

2.5 Pencegahan
• Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
• Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi.
• Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
• Berhenti merokok
• Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.


3. Pembahasan
Kebiasaan merokok adalah kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan berbagai permasalahan termasuk masalah gigi dan mulut. Bau mulut, Mengubah warna gigi (menimbulkan staining), Mempengaruhi perlekatan tulang dan jaringan lunak pada gigi, Menunda proses penyembuhan,Menyebabkan penyakit periodontal (periodontitis),Resiko tinggi terhadap kanker rongga mulut. Kebiasaan ini berupa kebiasaan merokok atau kebiasaan menguntah tembakau. Berperannya kebiasaan merokok sebagai factor etiologi bisa karena Mempermudah penumpukan kalkulus, Asap rokok bisa memperlemah kemampuan khemotaksis dan fagositosis netrofil, Kandungan nikotin rokok dapat memperlemah kemampuan fagositosis, menekan proliferasi osteoblas, dan kemungkinan juga mengurangi aliran darah ke gingival.
Periodontitis, merupakan salah satu penyakit yang menjadikan kebiasaan merokok sebagai salah satu faktor resiko tertinggi. Periodontitis adalah suatu peradangan yang terjadi pada jaringan periodontal ( gingiva, sementum, tulang alveolar, dan ligamen periodontal ).
Untuk mengetahui tingkat keparahan dari penyakit Periodontal ini kita dapat melakukan pemeriksaan kedalaman poket. Dan dapat juga dibantu dengan menggunakan rontgen untuk mengatahui tingkat kerusakan yang terjadi pada tulang.
Untuk tindakan perawatannya, kita dapat melakukan kuratase, namun jika tidak berhasil, dapat kita lakukan gingivectomy, dan tindakan operasi ini dapat dilakukan dengan pembiusan lokal. Namun untuk beberapa kasus ringan tertentu, kita dapat hanya melakukan pembukaan flap saja.
Salah satu upaya yang sangat penting berikutnya adalah, upaya pencegahan Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi, pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut., usahakan untuk berhenti merokok, serta lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.



4. Kesimpulan dan saran
4.1 kesimpulan
kebiasaan merokok ialah kebiasaan buruk yang dapat menjadi faktor resiko terhadap timbulnya penyakit periodontal.hal ini dibuktikan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan dan menarik sebuah kesimpulan bahwa prevalensi seorang perokok untuk terkena penyakit periodontal cukup tinggi dibandingkan dengan seseorang yang bukan perokok. Hal ini menambah daftar panjang keburukan yang disebaban oleh rokok selain dapat menyebabkan berbagai penyakit dalam tubuh kita. Kandungan nikotin, tar, dan partikel-partikel lainnya, sangat tidak menguntungkan buat kita, bahkan Asap rokok dapat mengubah beberapa gen dari Porphyromonas gingivalis yang berhubungan dengan virulensi, detoksifikasi, mekanisme stress oksidatif, dan perbaikan DNA. Perubahan pun terjadi pula pada protein yang terdapat pada sel membran bakteri dan hal ini mempengaruhi karakteristik dari bakteri tersebut dan bagaimana sistem imun manusia mengenal patogen ini. Untuk itu, orang-orang dengan kebiasaan merokok kebanyakan memiliki sistem imun yang kurang baik.

4.2 Saran
Sebaiknya pemerintah mulai menggalakkan program khusus untuk mensosialisasi kan bahaya rokok bagi kesehatan pada umumnya dan kesehatan rongga mulut khususnya. Karena program yang selama ini ada, masih jauh dari kata cukup berhasil, mengingat data yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2008, dimana Indonesia menempati peringkat 3 besar didunia, dalam hal pengguna kebiasaan ini.
Peran serta masyarakat juga sangat diperlukan, khususnya masyarakat yang berpendidikan tinggi ataupun yang paham akan permasalahan ini, untuk sama –sama bersosialisasi tentang hal ini semua. Kesadaran dari masyarakat juga sangat dibutuhkan guna mencapai suatu kehidupan yang lebih baik lagi.






Daftar pustaka

1. Ogston R, Harty FJ. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC, 1995
2. Dorland WAN. Kamus kedokteran Dorland. Ed 29. Jakarta; EGC,2002
3. Wilson LM, Price SA. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed 6. Jakarta: EGC, 2005
4. Eley BM, Manson JD. Buku Ajar Periodonti. Ed 2. Jakarta: Hipocrates, 1993
5. Trikarjana P. Biologi Mulut I. Palembang:2004
6. Lawler W, Ahmed A, dan Hume WJ. Buku Pintar Patologi untuk Kedokteran Gigi. Cetakan II. Jakarta : 2002
7. Spackman SS, Janet GB. Periodontal Treatment for Older Adults, in (Carranza’s Clinical Periodontology). Ed 10, St.louis: WB Saunders Company,2006
8. Dixon AD. Buku pintar Anatomi untuk Kedokteran Gigi. Ed 5. Jakarta: Hipocrates,1996
9. Hall, Guyton. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed 9. Jakarta: EGC, 1997